Internet dan Hilangnya Hal-Hal Penting

Banyak orang mengira kemajuan teknologi dan keterhubungan dunia lewat internet adalah sebuah kebebasan. Orang-orang ingin bebas berpendapat dan menyuarakan pikirannya lewat medium ini. Ya, seperti saya lewat blog ini. 

Sampai satu titik, semua orang merasa pendapat dan pikirannya itu penting. Sampai-sampai khalayak internet, yang disebut netizen itu, perlu mengetahuinya. Mulai dari artis liburan ke luar negeri, warga curhat persoalan rumah tangga dan dapur kehidupan pribadi, ada juga orang muncul di internet menawarkan jasa meramal nasib. 

Astaga, meramal nasib! Apa itu tidak terlalu absurd

Melihat politisi memanggul beras atau walikota mengatur lalu lintas sambil hujan-hujanan saja saya heran. Ini ada orang meramal nasib orang lain. Apakah tidak lebih baik dia meramal nasibnya sendiri, siapa tahu dia sebenarnya adalah juru penyelamat WNI dari kebobrokan yang ada. 

Apakah juru ramal itu tak malu pada Tuhan, atau paling tidak, apa dia tidak takut? 

Balik lagi soal keterhubungan yang dianggap kebebasan. Apa benar begitu? Bukankah kita justru jadi terjajah? Kita tak bisa memilih apa benar hal-hal yang tersebar di internet itu penting untuk kita pikirkan, penting untuk kita komentari, atau penting untuk sekadar kita ketahui. 

Saya justru berpikir keterhubungan kita dengan internet lebih banyak memenjarakan daripada membebaskan. Orang tak lagi bisa leluasa melakukan hal-hal yang disenanginya. Kalau pun ada yang kesenangan yang sedang dia lakukan, eh, terancam privasinya tersebar di internet. Belum lama ini beberapa pelari yang sedang olah raga merasa tak nyaman dengan adanya jasa foto yang memotret mereka lalu menjual foto itu jika pelari itu sebagai obyek foto mau menebusnya. 

Belum lagi, soal bagaimana keterhubungan ini menuntut orang menjadi fast respons. Mengapa hidup kita yang indah ini tereduksi menjadi admin-admin perpesanan instan seperti WhatsApp atau media sosial seperti Instagram? 

Saya sepakat, kalau internet juga sebenarnya digunakan untuk menyuarakan suara orang-orang dari kelompok marjinal, yang tak punya ruang di media mainstream. Dalam konteks ini, internet jadi ruang alternatif yang bisa dipakai bersama. Namun, di era penuh disrupsi dan buzzer atau influencer berbayar (yang acapkali tak punya integritas terhadap audiens) membuat hal-hal yang tak penting menjadi tampak penting. 

Jangan-jangan, memang di dunia internet ini tidak ada lagi yang penting, sehingga semua hal dianggap penting. Akhirnya, kabar tak meratanya bantuan untuk penyintas bencana alam, semrawut dan ugal-ugalannya pemerintah dalam program populis Makan (tidak) Bergizi (tidak) Gratis, hingga makin orba-nya vibes pemerintah periode ini menjadi kabur. Iya, kabur! 

Mari kita tangkap! Seperti mereka menangkap aktivis. 

Saya jadi ingat satu buku karya Bill Kovach dan Tom Rosentiel. Buku mereka yang berjudul Blur: How to Know What's True in the Age of Information Overload menekankan masalah utama di abad ini bukan kekurangan informasi, tapi kelebihan informasi yang tidak terverifikasi. 

Blur sebenarnya mengambil konteks media massa dengan fungsi jurnalisme yang sebelum era informasi ini dominan menjadi penjaga kebenaran publik. Di era informasi seperti sekarang peran itu terkikis. Internet membuat semua orang bisa jadi penerbit, tapi sayangnya tidak semua penerbit memahami verifikasi. Akibatnya, batas antara fakta, opini, propaganda, dan hiburan jadi kabur. 

Di Indonesia, kekaburan ini bukan semata lantaran perkembangan teknologi. Tapi justru didukung oleh hubungan ekonomi-politik media. Saat ini, struktur kepemilikan media yang terkonsentrasi pada segelintir konglomerasi bisnis dan politik membuat bias sistemik dalam produksi berita. 

Kekaburan ini bersifat struktural. Kenapa? Karena kepentingan pemilik media bersinggungan dengan agenda editorial. Ya, meski fakta mungkin tak selalu disembunyikan, tapi pasti dibingkai secara selektif. Alhasil, kita merasa apa yang diangkat dalam headline, topik-topik, judul klik-bait, menjadi penting. 

Tekanan pasar ini memperparah situasi. Model bisnis media digital yang bergantung pada klik dan iklan membuat kecepatan jadi nilai tinggi. Judul sensasional, berita setengah matang, dan pengulangan narasi media sosial jadi praktek jamak sehari-hari. Belum lagi soal algoritma yang kerap jadi pertimbangan editorial. 

Meski awalnya buku ini soal media massa, tapi ini juga relevan untuk media sosial yang sering kita pantau sehari-hari. 

Untungnya, Kovach dan Rosenstiel tak sekadar mengumbar masalah kabur ini. Mereka berdua juga menawarkan solusi bahwa kita sebagai audiens dan publik, alias netizen, harus belajar berpikir seperti editor—memeriksa sumber, memahami konteks, dan menyadari kepentingan di balik informasi itu. 

Namun, di Indonesia, beban ini mungkin terasa tidak adil. Literasi media belum rata, kesenjangan akses informasi juga masih tinggi, dan algoritma media sosial justru makin memperkuat ruang gema (echo chamber). 

Internet memang membuat semua orang memang bisa bicara, ya termasuk saya lewat blog ini. Tapi, sayangnya tidak semua bicara didasarkan pada kebenaran. Misalnya saja, setiap kali pemilu mendekat, linimasa kita penuh dengan klaim, tuduhan, survei, dan potongan video yang saling bertabrakan. Semua tampak penting. 

Semua terasa mendesak dan penting. Tapi sedikit yang benar-benar jelas. Yang paling melelahkan adalah posisi kita sebagai publik, sebagai audiens. Kita diminta kritis, diminta memilah, diminta tidak mudah percaya. Tapi kita juga hidup dalam sistem yang justru membuat kebohongan lebih cepat, lebih viral, dan lebih menguntungkan daripada fakta.

Pada titik ini, saya merasa keterhubungan kita dengan internet sangat terasa seperti penjara daripada pembebasan. Sekarang kita hidup dalam ruang yang penuh suara, tetapi miskin kejernihan. Dan ini membuat kita jadi semakin terpenjara.  

Sekarang, persoalannya bukan sekadar bagaimana kita berbicara di internet, tapi apa yang masih bisa kita percayai. Dan jika demokrasi mensyaratkan warga yang mampu mengambil keputusan rasional, pertanyaannya kini menjadi lebih mendasar: bagaimana mungkin memilih dengan jernih, jika ruang publik kita sejak awal sudah kabur, sehingga hal-hal tak penting menjadi begitu penting dan mendesak? 

Komentar