Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sehari-hari

Curhat Kawan: "Kenapa Perempuan Bekerja?"

Gambar
Kenapa perempuan bekerja? Begitu pertanyaan seorang kawan kepada saya. Saya bilang jawabannya kompleks. Tergantung kondisinya.  Ada perempuan bekerja karena harus bekerja. Ada sebagian lain yang bekerja karena ingin bekerja. Keharusan dan keinginan tentu dua hal yang berbeda.  Ada yang tak ingin bekerja, tapi dia harus bekerja. Ada juga yang tak harus bekerja, tapi dia ingin bekerja.  “Lalu, kenapa kamu bekerja?” desaknya.  Saya jawab, saya berada di kondisi harus dan ingin. Kenapa? Saya harus bekerja, karena saya butuh tempat piknik dari peran dasar perempuan. Saya ingin karena ada kebutuhan tempat piknik. Saya sering sakit kalau tidak beraktivitas dan hanya memikirkan satu hal yang sama secara konstan setiap hari.  Bagi sebagian perempuan ruang domestik tak cukup bagi mereka. Bahasa era milenium menyebut aktivitas itu sebagai aktualisasi diri.  Sebagian perempuan yang punya keharusan lainnya memiliki kasus berbeda. Terutama mereka para pejuang mandiri. Pe...

Kenapa kita beragama?

Karena keturunan, atau keyakinan? Kalau karena keturunan, apakah akan menurunkan agama yang sama tanpa keyakinan? Kalau karena keyakinan, apakah yakin agama yang kita anut sudah benar? Sebelum jauh menjawab pertanyaan tersebut, ada hal mendasar yang perlu dijawab. Kenapa kita perlu beragama? Kenapa agama tercipta, atau diciptakan? Agama tercipta sejak ribuan tahun lalu. Kebanyakan manusia meyakini ada satu kekuatan atau zat yang punya kekuatan yang telah menciptakan kehidupan. Agama menjadi salah satu jalan yang ditempuh manusia untuk berkomuikasi dan mendekat kepada zat kekuatan tersebut. Sebelum Muhammad, sebelum Yesus, sebelum Buddha ada seorang Zoroaster. Dia mendapatkan visi tentang satu-satunya Tuhan yang tertinggi. Itu terjadi sekitar 3.500 tahun lalu. Setelah 1.000 tahun Zoroastrinisme terbentuk, ia menjadi agama monoteistik besar pertama di dunia. Zoroaster menyembar api. Agama ini menjadi kepercayaan resmi kekaisaran Persia. Setelah kekaisaran runtuh para p...

Terjebak dalam Ruang Artifisial

Gambar
Siapa yang tak punya media sosial? Mayoritas kita tentu punya. Iya, platform itu jadi tempat kita bersosialisasi secara virtual setiap hari dengan teman sekolah, teman kerja atau teman virtual. Belakangan, ruangan itu makin hari makin riuh saja. Saya pikir, media sosial hanya ramai saat masa pilkada dan tahun politik saja, ternyata tidak. Sepertinya siapapun di dalamnya selalu mencari topik dan cara untuk membuat hidup virtualnya jadi lebih ramai. Di sini, siapapun bebas berekspresi walau di dunia nyata mungkin dia sebenarnya lebih pendiam. Lewat berbagai emoticon atau emosi berbentuk ikon, perasaan-perasaan diwakilkan dan diekspresikan. Satu  ikon jempol di dunia virtual bisa bermakna cukup dalam bagi mereka yang kesepian di dunia nyata. Tak seperti ruang fisik yang menampakkan citra sesungguhnya, ruang virtual itu sejatinya menampilkan hal yang bersifat artifisial. Semuanya sudah dibumbui, dipercantik dan diatur agar tampak menarik. Realitas yang ditampilkan bukan realitas se...

Zootopia, mendobrak stigma si kecil yang lemah

Gambar
Saya punya hobi baru, nonton film animasi. Hobi itu muncul beberapa bulan terakhir karena nyari hiburan bersama pak suami yang maniak animasi. Selain itu, kalau nonton animasi si anak juga bisa nimbrung walaupun teteup pakai bahasa asing dan belum bisa baca subtitle juga.  Sebelumnya, saya nonton film-film animasi Jepang seperti Kimi no Na Wa dan Spirited Away. Reviewnya sedikit di sini. Jadi, film-film animasi ini bukan cuma menghibur tapi juga punya pesan moral.  Nah, karena gak semua film animasi ini punya pesan moral, baiknya kita pilih-pilih tontonan. Misalnya, beberapa minggu lalu saya baru nonton Zootopia. Menurt saya, film besutan Disney tahun 2016 ini layak tonton. Kenapa? Karena, punya pesan moral yang kuat. Seperti jangan cepat menyerah, harus punya keinginan kuat, berusaha menggapai apa yang kita inginkan, idealis dan pada akhirnya kita diajak untuk mendobrak stigma yang selama ini melekat pada fisik orang. Misalnya, orang yang kecil pasti lem...