Melihat Indonesia dari Harga
Ibu saya—rahimallahu anha—punya satu ideologi “uang tidak pernah berbohong” . Beliau juga kerap berpesan, “Kamu sudah kerja capek-capek, jangan lupa makan. Kerja kan untuk cari makan, sudah kerja kok malah lupa makan” . Sepertinya, ibu saya punya kedekatan emosional dengan uang dan makanan. Atau, jangan-jangan bukan cuma ibu saya, tapi ibu-ibu lainnya di dunia ini. Belakangan saya juga merasakan yang sama saat setelah jadi ibu-ibu. Dulu, saat masih jadi mahasiswa saya begitu perhitungan. Apa boleh buat, uang saku harus cukup untuk bertahan hidup. Saat ada keinginan membeli buku (di luar buku wajib kuliah), mau tak mau saya harus cari kerjaan sampingan. Jika sedang tidak ada kerjaan—karena kerjaan yang ada saat itu cenderung berbasis proyek seperti survei, tidak selalu tersedia—saya harus tahan jajan demi beli buku. Setelah jadi ibu-ibu, uang dan makanan jadi headline yang memenuhi mental load sehari-hari. Makanan harus terbeli, meskipun ada keinginan membeli buku juga demi melawan...