Postingan

Menampilkan postingan dengan label Deep

Normal Baru

Seorang sahabat datang mengeluh. Tentang cita-citanya yang tak kunjung utuh. Lalu kutanya: "memang apa cita-citamu?" Dia jawab, menikah.  Kutanya lagi. "Lantas, setelah menikah, apa cita-citamu?" Sederhana saja: ingin punya anak. Supaya dapat melanjutkan keturunan? "Bisa jadi," ujarnya.   Atau sekadar punya foto keluarga lebih utuh: ada ayah, ibu, dan anak. Setidaknya menurut versi orang kebanyakan.  Dia bilang, orang-orang di kampungnya menikah di awal usia 20-an. Dia kini berusia kepala 3. Sejawat ibunya kerap bertanya, kapan dia bercucu.  Aku kembali menegaskan, "apakah itu berarti cita-citamu adalah terlihat normal?"  Seperti orang kebanyakan. Tumbuh besar, menikah, punya anak, menghadiri wisuda, mengadakan pesta pernikahan dan mengundang tetangga hingga kolega. Syukur-syukur hidup sampai tua melihat cucu.  Dia jawab lagi, "bisa jadi." Melihat saja. Bukan merawat. Semoga si anak kelak bukan menjadi orang tua kelas pekerja kebanyakan...

Menghardik Kesedihan

Gambar
​​ Hal yang paling menakutkanku adalah Bapak Ibu mati. Kupikir tak mungkin melanjutkan hidup tanpa mereka. Maksudku, sejak aku lahir mereka sudah lebih dulu ada. Tak terbayang, bagaimana jika mereka tidak ada.  Aku punya bayangan, Ibu mati karena penyakit gulanya. Sedangkan Bapak, yang tak punya penyakit bawaan, sesekali sakit perut karena punya masalah usus. Jujur, aku tak punya bayangan sedikit pun soal bagaimana Bapak akan mati.  Tapi, akhirnya hari itu datang juga. Pagi itu ibuku berangkat mengaji dengan suka cita. Setelah beberapa bulan vakum karena rumah kami direnovasi dan harus mengungsi, dia mengaji lagi. Seperti biasa, dia masih mondar mandir naik motor sendiri.  Biasanya jam 8 pagi pengajian selesai. Ibu sampai rumah kerap membawa aneka jajanan untuk kami sarapan. Tapi, pagi itu hanya ada telepon masuk dari nomer tak dikenal. Suara di ujung telepon bilang, ibuku dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan.  Aneh rasanya, melihat Ibu yang jarang sakit berbar...

Kenapa kita beragama?

Karena keturunan, atau keyakinan? Kalau karena keturunan, apakah akan menurunkan agama yang sama tanpa keyakinan? Kalau karena keyakinan, apakah yakin agama yang kita anut sudah benar? Sebelum jauh menjawab pertanyaan tersebut, ada hal mendasar yang perlu dijawab. Kenapa kita perlu beragama? Kenapa agama tercipta, atau diciptakan? Agama tercipta sejak ribuan tahun lalu. Kebanyakan manusia meyakini ada satu kekuatan atau zat yang punya kekuatan yang telah menciptakan kehidupan. Agama menjadi salah satu jalan yang ditempuh manusia untuk berkomuikasi dan mendekat kepada zat kekuatan tersebut. Sebelum Muhammad, sebelum Yesus, sebelum Buddha ada seorang Zoroaster. Dia mendapatkan visi tentang satu-satunya Tuhan yang tertinggi. Itu terjadi sekitar 3.500 tahun lalu. Setelah 1.000 tahun Zoroastrinisme terbentuk, ia menjadi agama monoteistik besar pertama di dunia. Zoroaster menyembar api. Agama ini menjadi kepercayaan resmi kekaisaran Persia. Setelah kekaisaran runtuh para p...

Entrok dan Simbah

Gambar
sampul buku fiksi Entrok karya Okky Madasari. sumber: goodreads Saat pertama kali membaca buku fiksi berjudul Entrok, karya Okky Madasari beberapa tahun lalu saya langsung teringat pada Simbah. Meski latar dan plotnya berbeda, tokoh Sumarni selalu mengingatkan saya akan sosok Mbah yang meninggal ketika saya di pesantren. Novel yang mengangkat latar tahun 1950-an itu menceritakan kehidupan Sumarni, seorang perempuan yang bekerja di pasar sebagai pengupas singkong untuk bertahan hidup bersama ibunya. Tapi, dia tak puas hanya jadi tukang kupas singkong. Dia ingin jadi kuli seperti lelaki karena bayarannya uang, bukan singkong. Sebab, Sumarni punya satu keinginan: membeli Entrok atawa bra untuk payudaranya yang mulai tumbuh. Akhirnya dia mendobrak stigma dan menjadi perempuan pertama yang jadi kuli. Bermula dari daya juang itu, Marni punya uang lebih dari sekadar modal untuk beli Entrok. Dia piawai memutar uang dan melihat potensi usaha. Kepiawaian memutar uang dan melihat p...

Sulitnya berlaku adil sejak dalam pikiran[1]

Gambar
Riuhnya media sosial karena aksi demo 4 November. Buka Facebook, Twitter dan kanal-kanal media online riuh bukan main. Bahkan, grup chat di aplikasi WhatsApp penuh dengan opini para anggotanya. Semua orang seakan jadi yang paling tahu kejadian sebenarnya. Semua orang ingin agar suaranya di dengar. Yang suaminya ikut demo, istri ikut live report ke tetangga dan kawannya di grup. Siapa pun yang bisa dia jangkau dan bisa diajak berdiskursus perlu tahu pendapatnya. Yang ikut demo langsung, tak lupa selfie dan update di akun media sosialnya. Yang parah itu, (menurut saya) yang keluarganya tak ikut aksi, dia ikut mengabarkan apa yang (mungkin) sebenarnya dia tak tahu persis. Hanya memperkeruh suasana. Hanya agar dia dianggap. Dan (ini agak kasar, sih) dia tetap eksis di antara kerumunan [2] . sumber gambar: keepo.me Beberapa kawan tanya pendapat saya, soal pidato Ahok dan soal aksi demo lewat japri. Bah, berlebihan! Memang saya siapa? Hanya ibu satu anak yang gemar baca novel...

Tersengat Wanita Listrik!

Gambar
Hampir setengah jam saya berada di ruang tamu sebuah rumah sederhana di Jalan Sulaiman Rawa Belong, Jakarta Barat. Agak susah mencari alamat rumah yang menjadi kantor operasional Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) itu. Sebab, selain tak ada plang besar, rumah itu tampil apa adanya, nyaris tanpa ornamen apa pun. Seperti bukan kantor yang telah berjasa menerangi puluhan desa terpencil dengan listrik. Kalau dibandingkan dengan kantor PLN ya jauh lah walau kalau soal jasa justru terbalik. Eh :p  Ruang tamu sederhana itu cenderung sumpek dengan dua unit generator listrik yang akan dikirim ke desa. Belum lagi maket masterplan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang terasa dipajang sekenanya. Walau begitu, ruangan itu berisi aneka pajangan trofi penghargaan. Iya, trofi itu dihadiahkan untuk sang pendiri IBEKA, Ibu Tri Mumpuni.  Tak lama kemudian, perempuan yang akrab disapa Ibu Puni itu datang. Dengan senyum khas penuh keramahan dan kesahajaan dia menyapa s...

Cerita Tentang Pengalaman Batin di Pulau Dewata

Gambar
Tidak ada yang pernah tahu apa rencana Tuhan. Seringkali kita tidak bisa menafsirkan maksud-Nya. Saya baru saja mengalami kejadian tak terduga. Kejadian yang memberikan pengalaman batin tersendiri.  Akhir pekan ini saya berkunjung ke Pulau Dewata. Seperti perjalanan pada umumnya, saya membawa sejumlah uang di dalam dompet untuk meratakan penyebaran uang, supaya tidak berpusat di Jakarta saja (baca: jajan dan perilaku konsumtif, kalap dan sejenisnya) hehe. Tapi, ternyata uang di dalam dompet tidak begitu saya jaga baik-baik. Tanpa sadar tertinggal di toilet. Parahnya, saya baru mengingatnya saat makan siang. Padahal saya tiba di bandara jam 9 pagi. Belum pernah terpikir, bagaimana rasanya terdampar di kota orang tanpa pegang uang tunai. Ya, meski sekarang sudah ada layanan mobile bank, saya bisa minta teman saya tarik uang tunai dan saya langsung transfer, tapi tetap tidak seleluasa saat kita akses uang kita sendiri. Pada saat saya sadar uang saya hilang, saya langsung ...

Cerita Ombak dan Kaki

Gambar
sumber gambar: http://goo.gl/jvjhDB Mungkin kita terlalu lama dekat, sehingga aku merasa bahwa nafasmu adalah bagian dari hidupku. Seperti merasa separuh bagian, kemudian menyatu dan saling berbagi kehidupan. Tapi semenjak kamu mengenalnya, nafasmu menjadi hal yang asing. Tidak dapat aku hirup dan menyegarkan ronggaku. Kamu seperti seseorang yang terbawa, oleh riak-riak ombak yang sedianya hanya menyentuh kaki liarmu, yang tanpa lelah terus mencari tempat singgah. Namun rupanya, di sana, di laut itu, kamu justru berlabuh. Laut yang sangat luas, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kamu berlabuh di tengah laut, bukan di pantai seperti orang-orang kebanyakan. Aku mengenalmu, jauh sebelum dia mengenalmu, tapi mungkin intensitas kita tidak sebanyak intensitasnya bertemu denganmu. Kamu menjadi lebih dekat dengannya, dan menjaga jarak dengan orang-orang yang sudah lebih lama mengenalmu. Mungkin ada hal-hal yang tidak dapat aku definisikan dan hanya kamu yang menger...

Saya dan Pernikahan

Gambar
Dalam hitungan hari, saya telah masuk ke gerbang kehidupan baru. Sebuah dunia yang memiliki dimensi berbeda dari dunia sebelumnya. Banyak yang terkejut dan bertanya kepada saya mengenai perasaan, kesiapan, bahkan pertimbangan memilih menikah.  Bagi saya pernikahan bukan melulu perihal kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Seperti pertimbangan kakek nenek kita zaman dahulu yang dinikahi begitu dianggap sudah dewasa dalam konteks reproduksi. Bukan juga seperti deadline yang harus dipenuhi ketika usia telah memasuki angka-angka tertentu. Saya memang anak kemarin sore yang memutuskan menikah di tahun yang sama dengan acara penyelenggaraan pernikahan. Tapi izinkan saya berbagi persepsi saya perihal pernikahan, minimal mengapa saya kemudian memilih menikah.  Saya pernah begitu takut menikah, padahal saya berasal dari keluarga harmonis dengan ayah ibu yang selalu bersikap manis. Tidak ada istilah broken home. I come from a sweet home. Kala itu, pernikahan bagi saya adala...

Manusia, Materi dan Kesementaraan

Gambar
Sumber Gambar: http://goo.gl/7vliJ7 Hidup di era matrealistik membuatku semakin sadar bahwa kita kini hidup berkelindan dengan benda. Hidup kita dikelilingi dengan benda. Seringkali benda-benda tersebut kita beli bukan karena fungsinya. Benda telah mewujud melampaui dari fungsinya. Benda mencengkram kita bukan karena ketergantungan kita akan fungsinya. Benda telah semakin menorehkan dampak psikologis, kita semakin menjalin hubungan yang erat dengan benda. Begitu intim. Sekali lagi bukan karena fungsinya. Tapi benda mempengaruhi kesadaran berpikir kita. Ia dengan cepatnya memegang peranan yang sangat penting dalam struktur kehidupan kita.  Tapi meski demikian eratnya ketergantungan kita dengan benda, relasi kita semakin hari menjadi kian sementara. Coba kita ingat-ingat lagi berapa sering kita membeli pakaian, dan berapa sering kita mengganti barang-barang yang baru saja kita beli beberapa bulan sebelumnya, berapa sering kita membeli sepatu untuk mengikuti gaya terkini. ...

Merayakan Hidup dan Menikmati Kejutannya

Gambar
sumber gambar: http://goo.gl/uPzfh Kadang kita dipaksa untuk berkemas pergi sebelum masanya. Dan seringkali hidup tidak memberimu banyak waktu untuk berpikir dan menghela napas. Namun ketika kamu mengalir dan mengikut alurnya hidup, kemudian mengikhlaskannya, kamu akan bertemu kejutan-kejutan kehidupan dan belajar menikmatinya. Hidup menawarkan banyak tempat sebagai scene untuk kita lalui sebagai aktor. Kita tidak akan pernah tahu berapa lama kita memainkan peran kita. Seringkali kita mencoba mengelabui waktu dengan menikmati banyak hal dalam waktu yang sempit. Manusia kota banyak yang melakukannya, mereka sering menyebut dengan istilah multi-tasking. Dalam hidup aku telah banyak belajar untuk mengatakan tidak, karena aku kerap menggadaikan kepentinganku demi ajakan dan tawaran orang lain. Tapi dalam setiap kesempatan yang terhidang dalam meja hidupku, aku selalu melahapnya, aku tidak berani untuk menolak. Karena kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Mungkin ia aka...