Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hidup

Menghadapi Pudarnya Pertemanan

Gambar
Saya takjub betul meski baru menonton beberapa episode Hospital Playlist season satu. Betapa persahabatan di antara para dokter itu begitu sakral dan awet. Bahkan Indomie yang pakai pengawet pun punya tanggal kadaluarsa.  Saya jadi memperhatikan tren pertemanan saya beberapa tahun terakhir. Tidak ada perkelahian, tidak ada drama-drama, tidak ada pertemuan atau reuni rutin, tidak bertukar kabar kecuali ada sanak keluarga meninggal atau sakit parah. Banyak hal dalam pertemanan mulai memudar.  Saya pikir apa yang membuat para sahabat dokter di Hospital Playlist itu masih terus akrab karena mereka masih punya satu common interest : menyelamatkan nyawa manusia lewat operasi-operasi, yang keliatannya tak perlu tagihan. Sungguh mulia.  Kedua, mereka juga mulai menghangatkan kembali pertemanan yang hampir pudar dengan bekerja dalam satu tim dalam rumah sakit yang sama. Ketiga, mereka memaksakan diri untuk meluangkan waktu bermain band bersama. Itu juga awalnya terpaksa. Macam kel...

Membaca Masa Depan

Gambar
Saya kerap ngeri membayangkan masa depan. Entah kenapa. Konon, kengerian hadir lantaran ketidaktahuan seseorang. Ya, mungkin karena saya tidak tahu masa depan akan seperti apa. Penuh rahasia.  Kita pun tahu, hidup kita semua sekejap berubah drastis dengan kehadiran virus dan musim pagebluk tiada akhir ini mengubah cara kita bekerja, belajar, dan bersosialisasi. Entah kapan berakhir. Siapa yang tahu? Tak ada.  Meski kerap ngeri, saya selalu senang membaca buku yang berbau masa depan. Seperti buku Alvin Toffler yang terbit puluhan tahun lalu: Future Shock (Kejutan Masa Depan versi Indonesia). Tapi semakin saya baca dan tahu, justru saya semakin ngeri.  Era Gelombang Ketiga Toffler tak tahu banyak tentang Internet, tapi prediksinya tentang masa depan sangat luar biasa dengan membentuk mode keberadaan baru yang dia sebut "The Ad-hocracy”. Mode keberadaan ini mengubah dunia menjadi "dunia bebas" serta organisasi kinetik.  Dia juga memprediksi, hubungan kita dengan benda t...

Menghardik Kesedihan

Gambar
​​ Hal yang paling menakutkanku adalah Bapak Ibu mati. Kupikir tak mungkin melanjutkan hidup tanpa mereka. Maksudku, sejak aku lahir mereka sudah lebih dulu ada. Tak terbayang, bagaimana jika mereka tidak ada.  Aku punya bayangan, Ibu mati karena penyakit gulanya. Sedangkan Bapak, yang tak punya penyakit bawaan, sesekali sakit perut karena punya masalah usus. Jujur, aku tak punya bayangan sedikit pun soal bagaimana Bapak akan mati.  Tapi, akhirnya hari itu datang juga. Pagi itu ibuku berangkat mengaji dengan suka cita. Setelah beberapa bulan vakum karena rumah kami direnovasi dan harus mengungsi, dia mengaji lagi. Seperti biasa, dia masih mondar mandir naik motor sendiri.  Biasanya jam 8 pagi pengajian selesai. Ibu sampai rumah kerap membawa aneka jajanan untuk kami sarapan. Tapi, pagi itu hanya ada telepon masuk dari nomer tak dikenal. Suara di ujung telepon bilang, ibuku dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan.  Aneh rasanya, melihat Ibu yang jarang sakit berbar...

Entrok dan Simbah

Gambar
sampul buku fiksi Entrok karya Okky Madasari. sumber: goodreads Saat pertama kali membaca buku fiksi berjudul Entrok, karya Okky Madasari beberapa tahun lalu saya langsung teringat pada Simbah. Meski latar dan plotnya berbeda, tokoh Sumarni selalu mengingatkan saya akan sosok Mbah yang meninggal ketika saya di pesantren. Novel yang mengangkat latar tahun 1950-an itu menceritakan kehidupan Sumarni, seorang perempuan yang bekerja di pasar sebagai pengupas singkong untuk bertahan hidup bersama ibunya. Tapi, dia tak puas hanya jadi tukang kupas singkong. Dia ingin jadi kuli seperti lelaki karena bayarannya uang, bukan singkong. Sebab, Sumarni punya satu keinginan: membeli Entrok atawa bra untuk payudaranya yang mulai tumbuh. Akhirnya dia mendobrak stigma dan menjadi perempuan pertama yang jadi kuli. Bermula dari daya juang itu, Marni punya uang lebih dari sekadar modal untuk beli Entrok. Dia piawai memutar uang dan melihat potensi usaha. Kepiawaian memutar uang dan melihat p...

Ini alasan kenapa wartawan gak suka nge-mal

Pak Wowo dari negeri Sentul bilang kalau wartawan gak suka ke mal. Dan lantas berasumsi kalau gak suka ke mal maka gaji wartawan itu kecil.  Pak, to be honest, wartawan bergaji gede banyak juga gak suka nge-mal. Karyawan industri lain gaji lebih kecil tapi suka ke mal juga ada. Jadi, bukan gede atau kecilnya gaji. Tapi soal preferensi tempat belanja.  Ini soal selera. Kami tahu, kalau mal itu bukan tempat yang bagus-bagus amat buat belanja. Kami tahu value for money. Kalau barang yang dijual dalam mal sudah melewati rangkaian proses panjang yang bikin harganya tak masuk akal. Dan menurut kami itu tidak realistis. Industri garmen besar juga kebanyakan tak beri pengupahan yang layak. Kami tidak makan merek. Kami makan fungsi. Selama nyaman, tak bermerek pun kami pakai, Pak.  Kami hanya rela mengeluarkan uang lebih mahal untuk beli beberapa produk asli Indonesia. Misalnya beli kain batik tulis asli, kain songket atau tenun, bahkan kain Shibori yang lagi hits itu...

Sulitnya berlaku adil sejak dalam pikiran[1]

Gambar
Riuhnya media sosial karena aksi demo 4 November. Buka Facebook, Twitter dan kanal-kanal media online riuh bukan main. Bahkan, grup chat di aplikasi WhatsApp penuh dengan opini para anggotanya. Semua orang seakan jadi yang paling tahu kejadian sebenarnya. Semua orang ingin agar suaranya di dengar. Yang suaminya ikut demo, istri ikut live report ke tetangga dan kawannya di grup. Siapa pun yang bisa dia jangkau dan bisa diajak berdiskursus perlu tahu pendapatnya. Yang ikut demo langsung, tak lupa selfie dan update di akun media sosialnya. Yang parah itu, (menurut saya) yang keluarganya tak ikut aksi, dia ikut mengabarkan apa yang (mungkin) sebenarnya dia tak tahu persis. Hanya memperkeruh suasana. Hanya agar dia dianggap. Dan (ini agak kasar, sih) dia tetap eksis di antara kerumunan [2] . sumber gambar: keepo.me Beberapa kawan tanya pendapat saya, soal pidato Ahok dan soal aksi demo lewat japri. Bah, berlebihan! Memang saya siapa? Hanya ibu satu anak yang gemar baca novel...

Tersengat Wanita Listrik!

Gambar
Hampir setengah jam saya berada di ruang tamu sebuah rumah sederhana di Jalan Sulaiman Rawa Belong, Jakarta Barat. Agak susah mencari alamat rumah yang menjadi kantor operasional Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) itu. Sebab, selain tak ada plang besar, rumah itu tampil apa adanya, nyaris tanpa ornamen apa pun. Seperti bukan kantor yang telah berjasa menerangi puluhan desa terpencil dengan listrik. Kalau dibandingkan dengan kantor PLN ya jauh lah walau kalau soal jasa justru terbalik. Eh :p  Ruang tamu sederhana itu cenderung sumpek dengan dua unit generator listrik yang akan dikirim ke desa. Belum lagi maket masterplan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang terasa dipajang sekenanya. Walau begitu, ruangan itu berisi aneka pajangan trofi penghargaan. Iya, trofi itu dihadiahkan untuk sang pendiri IBEKA, Ibu Tri Mumpuni.  Tak lama kemudian, perempuan yang akrab disapa Ibu Puni itu datang. Dengan senyum khas penuh keramahan dan kesahajaan dia menyapa s...

Kenapa Cita-Cita itu Enggak Penting

Gambar
masih punya cita-cita? Bicara tentang cita-cita selalu banyak bumbu cerita. Terutama mengenai betapa sulitnya menggapai cita-cita. Ada yang harus berdarah-darah untuk mendapatkan cita-cita masa kecil, ada juga cerita sedih saat cita-cita enggak tercapai dan sekarang jadi abang Go-Jek. No offense , ya! Tapi, apakah hidup melulu tentang menggapai cita-cita. Menurut saya, konsep cita-cita yang dibangun sejak zaman sekolah sudah usang. Kenapa kita harus punya cita-cita? Apakah kalau kita tidak punya cita-cita lantas hidup kita akan sia-sia? Sayang dunia membentuk jawabannya adalah, iya! Kalau kamu enggak mencapai cita-cita, kamu enggak sukses. Kalau mau sukses harus punya cita-cita dulu, terus kejar sampai dapat. Karena banyak film dan buku motivasi yang beredar, cita-cita menjadi maha penting untuk dicapai. Kalau enggak, kamu akan menjadi orang paling menyedihkan sejagat. Kita seringkali bercita-cita dengan ambisi. Itu kenapa saya pikir konsep cita-cita yang ditanamkan pendid...

Kemilau Ibu Kota Menggoda Mata

Gambar
Sentralisasi, satu kata yang cukup mewakili kondisi ibu kota saat ini. Jakarta memang tidak cukup merepresentasikan Indonesia, tapi tengok bagaimana perkembangan ibu kota ini lebih pesat daripada kota lainnya yang mungkin bisa dikatakan ‘anak’. Apakah si ibu ini gila, menghabiskan makanan sendiri tanpa memberi makan anak-anaknya yang sedang dalam masa pertumbuhan (apasih? :p). Memang begitu kenyataannya. Ibu kota melahap habis makanan sehingga kota-kota lainnya menjadi anak busung lapar saja. Anggaran belanja daerah DKI Jakarta selalu lebih besar daripada daerah lainnya. Belum lagi lengkapnya sarana dan infrastruktur dibanding kota lainnya. Hal tersebut karena Jakarta dijadikan pusat pemerintahan, perekonomian sekaligus hiburan. Betapa kilaunya menggoda mata untuk melirik, bukan. Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kota tua, dan ngobrol dengan ibu penjual minuman sachet, bernama Watinah. Dia bilang kini berdagang di Jakarta meski harus membayar uang kontrakan tetap lebih untung ...

Cerita Ombak dan Kaki

Gambar
sumber gambar: http://goo.gl/jvjhDB Mungkin kita terlalu lama dekat, sehingga aku merasa bahwa nafasmu adalah bagian dari hidupku. Seperti merasa separuh bagian, kemudian menyatu dan saling berbagi kehidupan. Tapi semenjak kamu mengenalnya, nafasmu menjadi hal yang asing. Tidak dapat aku hirup dan menyegarkan ronggaku. Kamu seperti seseorang yang terbawa, oleh riak-riak ombak yang sedianya hanya menyentuh kaki liarmu, yang tanpa lelah terus mencari tempat singgah. Namun rupanya, di sana, di laut itu, kamu justru berlabuh. Laut yang sangat luas, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kamu berlabuh di tengah laut, bukan di pantai seperti orang-orang kebanyakan. Aku mengenalmu, jauh sebelum dia mengenalmu, tapi mungkin intensitas kita tidak sebanyak intensitasnya bertemu denganmu. Kamu menjadi lebih dekat dengannya, dan menjaga jarak dengan orang-orang yang sudah lebih lama mengenalmu. Mungkin ada hal-hal yang tidak dapat aku definisikan dan hanya kamu yang menger...

Manusia, Materi dan Kesementaraan

Gambar
Sumber Gambar: http://goo.gl/7vliJ7 Hidup di era matrealistik membuatku semakin sadar bahwa kita kini hidup berkelindan dengan benda. Hidup kita dikelilingi dengan benda. Seringkali benda-benda tersebut kita beli bukan karena fungsinya. Benda telah mewujud melampaui dari fungsinya. Benda mencengkram kita bukan karena ketergantungan kita akan fungsinya. Benda telah semakin menorehkan dampak psikologis, kita semakin menjalin hubungan yang erat dengan benda. Begitu intim. Sekali lagi bukan karena fungsinya. Tapi benda mempengaruhi kesadaran berpikir kita. Ia dengan cepatnya memegang peranan yang sangat penting dalam struktur kehidupan kita.  Tapi meski demikian eratnya ketergantungan kita dengan benda, relasi kita semakin hari menjadi kian sementara. Coba kita ingat-ingat lagi berapa sering kita membeli pakaian, dan berapa sering kita mengganti barang-barang yang baru saja kita beli beberapa bulan sebelumnya, berapa sering kita membeli sepatu untuk mengikuti gaya terkini. ...