Jakarta: Ironi Pembangunan dan Tubuh-Tubuh yang Disingkirkan
Jakarta adalah kota dengan banyak wajah. Tapi yang ku kenali hanya dua. Satu wajah menunjukkan keramahan, wajah satunya menunjukkan keangkuhan.
Malam itu, di tengah gemerlap Jakarta ada tubuh-tubuh letih menjaga mata tetap terbuka demi perut yang menanti mereka, di rumah.
Ada juga tubuh-tubuh tumbang disergap lelah. Terbaring tanpa resah di pelataran toko, di parkiran, di trotoar, di mana pun petugas tak mengusir mereka. Mereka memeluk malam, dan berharap esok Jakarta lebih ramah.
Sayangnya, Jakarta hanya ramah pada mereka yang mewah dan tetap angkuh pada mereka yang berpeluh.
Gedung-gedung tinggi yang dibangun dari utang, berdiri dengan pongah. Seolah, mereka adalah representasi paripurna Jakarta. Mereka merasa paling berhak atas tiap jengkal tanah di Jakarta, dan mengusir siapapun yang membuat Jakarta tampak lusuh.
"Jakarta, bukankah aku membuatmu tampak lebih indah dan sedap dipandang mata. Dengan begitu, turis akan lebih nyaman menjelajahi tiap sudut dirimu, dan investor akan lebih senang memarkirkan uangnya yang akan membuatmu tambah menawan," kata gedung-gedung itu.
Gedung-gedung itu menawarkan kemewahan yang tak dipunya tubuh-tubuh letih. Padahal, tubuh-tubuh itu menjaga Jakarta sejak lama, membuatnya lebih hidup sebagai kota, bukan sebagai etalase.
Tapi, Jakarta tak punya pilihan. Sebab, semua kota di dunia memang mendambakan keindahan, yang bisa dibeli dengan uang. Sedangkan, tubuh-tubuh letih kepayahan tak bisa menawarkan banyak hal selain membuatnya tetap hidup dan hangat. Jangankan membuat Jakarta tampak indah, nanti siang makan apa mereka pun belum tahu.
Maka, Jakarta memilih diam. Diam yang panjang, seperti lampu lalu lintas rusak di persimpangan nasib. Sementara kemewahan terus memperdayanya dengan iming-iming keindahan, kecantikan, dan kenyamanan.
Jakarta membiarkan gedung-gedung bicara lantang dengan bahasa angka dan grafik pertumbuhan. Sementara tubuh-tubuh letih hanya punya bahasa napas yang tersengal dan langkah yang kian berat.
Di pagi hari, Jakarta kembali berdandan. Jalan disapu, trotoar disiram, spanduk dibentangkan. Kota ini tampak bersih, rapi, dan sibuk. Seakan semalam tak pernah ada tubuh yang menggigil kedinginan di sudut-sudutnya. Seakan lelah bisa dihapus dengan air, seakan lapar bisa disingkirkan dengan estetika.
Tubuh-tubuh letih itu bangun lebih dulu dari matahari. Mereka menyelinap bersama gerobaknya, kadang hanya bersama seonggok kresek hitam yang menjadi seluruh hartanya. Mereka pergi sebelum dianggap mengganggu pemandangan. Mereka tahu, Jakarta lebih suka melihat bayangan gedung di kaca-kaca mobil ketimbang wajah mereka yang kusam oleh kerja. Mereka sadar, keberadaan mereka hanya sah selama mereka tak terlihat.
Jakarta bukan kota yang kejam, katanya. Ia hanya realistis. Ia hanya mengikuti arus dunia yang mengukur kemajuan dari seberapa tinggi bangunan menjulang, dari angka-angka makro yang terbilang, bukan dari seberapa banyak perut yang kenyang. Jakarta hanya sedang menyesuaikan diri dengan standar global, meski harus mengorbankan warganya sendiri.
Namun kadang, di sela klakson dan derap langkah sepatu formal, Jakarta mendengar bisikan. Dari tukang sapu yang mengelap keringat, dari pedagang minuman yang mengayuh sepedanya, dari pengemudi yang menahan kantuk. Bisikan itu sederhana sekali: kami ada, kami bekerja, kami juga bagian dari kota ini.
Jakarta pura-pura tak mendengar. Sebab, jika ia mendengar, ia harus memilih. Dan memilih berarti mengakui bahwa keindahan yang dibanggakannya berdiri di atas kelelahan yang tak pernah ia rayakan.
Malam nanti, Jakarta akan kembali bercermin pada cahaya lampu gedung. Ia akan tersenyum pada dirinya sendiri, merasa cukup, merasa berhasil. Sementara di sudut-sudut yang sama, tubuh-tubuh letih kembali memeluk malam, masih dengan harapan yang sama, entah untuk ke berapa kali: semoga besok, Jakarta benar-benar menjadi rumah, bukan sekadar etalase.

Komentar
Posting Komentar