Postingan

Internet dan Hilangnya Hal-Hal Penting

Banyak orang mengira kemajuan teknologi dan keterhubungan dunia lewat internet adalah sebuah kebebasan. Orang-orang ingin bebas berpendapat dan menyuarakan pikirannya lewat medium ini. Ya, seperti saya lewat blog ini.  Sampai satu titik, semua orang merasa pendapat dan pikirannya itu penting. Sampai-sampai khalayak internet, yang disebut netizen itu, perlu mengetahuinya. Mulai dari artis liburan ke luar negeri, warga curhat persoalan rumah tangga dan dapur kehidupan pribadi, ada juga orang muncul di internet menawarkan jasa meramal nasib.  Astaga, meramal nasib! Apa itu tidak terlalu absurd ?  Melihat politisi memanggul beras atau walikota mengatur lalu lintas sambil hujan-hujanan saja saya heran. Ini ada orang meramal nasib orang lain. Apakah tidak lebih baik dia meramal nasibnya sendiri, siapa tahu dia sebenarnya adalah juru penyelamat WNI dari kebobrokan yang ada.  Apakah juru ramal itu tak malu pada Tuhan, atau paling tidak, apa dia tidak takut?  Balik lagi ...

Jakarta: Ironi Pembangunan dan Tubuh-Tubuh yang Disingkirkan

Gambar
Jakarta adalah kota dengan banyak wajah. Tapi yang ku kenali hanya dua. Satu wajah menunjukkan keramahan, wajah satunya menunjukkan keangkuhan.  Malam itu, di tengah gemerlap Jakarta ada tubuh-tubuh letih menjaga mata tetap terbuka demi perut yang menanti mereka, di rumah.  Ada juga tubuh-tubuh tumbang disergap lelah. Terbaring tanpa resah di pelataran toko, di parkiran, di trotoar, di mana pun petugas tak mengusir mereka. Mereka memeluk malam, dan berharap esok Jakarta lebih ramah.  Sayangnya, Jakarta hanya ramah pada mereka yang mewah dan tetap angkuh pada mereka yang berpeluh.  Gedung-gedung tinggi yang dibangun dari utang, berdiri dengan pongah. Seolah, mereka adalah representasi paripurna Jakarta. Mereka merasa paling berhak atas tiap jengkal tanah di Jakarta, dan mengusir siapapun yang membuat Jakarta tampak lusuh.  "Jakarta, bukankah aku membuatmu tampak lebih indah dan sedap dipandang mata. Dengan begitu, turis akan lebih nyaman menjelajahi tiap sudut di...

Salah Kaprah Memaknai Pembangunan

Republik Indonesia lahir dari perjuangan dan pembebasan dari ekploitasi komoditas: cengkeh, pala, kopi, tembakau, dan lainnya. Negara lain menginginkan komoditas itu untuk kemakmuran warga negara mereka sendiri dan menjajah masyarakat Indonesia dengan menjalankan tanam paksa. Semangat kemerdekaan negara ini sejatinya lahir atas keinginan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap negara lain yang menginginkan sumber daya alam milik Indonesia. Ironisnya, sejarah itu kembali terjadi akibat pemerintah Indonesia salah memaknai arti pembangunan. Sementara masyarakat teriak #SaveRajaAmpat, pemerintah merasa ada peran ‘asing’ ingin mengagalkan program hilirisasi. Salah Kaprah Membangun Pemerintah melihat satu-satunya jalan bagi negara ini maju adalah menggunakan sudut pandang modernisasi. Sudut pandang ini mengasumsikan bahwa semua negara akan maju jika mengikuti jalur pembangunan negara-negara Barat, dengan fokus pada industrialisasi, pertumbuhan ekonomi, dan eksploitasi sumber daya ala...

Pagi di Jalan Jatimulya

Gambar
Sembari mengantar anak pergi ke sekolah, saya menghitung-hitung berapa jumlah gerobak berjejer, toko kelontong serba ada, dan warung nasi uduk serta warkop yang berisi orang-orang sarapan. Rupanya, cukup banyak. Sampai otak saya yang terbatas ini tidak bisa menyimpannya. Saya mengantar anak sekolah 8 kilometer jauhnya. Sepanjang itu pula saya melihat orang bekerja begitu keras untuk menafkahi diri mereka dan keluarganya dengan berdagang. “Jika kesiangan, rejeki dipatok ayam.” Begitu pesan kakek-nenek kita dahulu. Berdagang jadi satu jalan bertahan hidup bagi masyarakat di tengah rendahnya penyerapan tenaga kerja formal. Memulai usaha dengan modal kecil, jadi jalan keluar dari isu ketenagakerjaan di Indonesia. Kenaikannya tidak main-main, tahun 2024 saja mencapai 83 persen dari tahun 2023. Dan tahun 2025 diprediksi naik menjadi 87 persen, menurut Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik 2024-2025 yang dilakukan oleh CPA Australia. Sayangnya, pertumbuhan warung-warung itu diklaim sebagai gelia...

Segregasi Status Sosial Berawal dari Sekolah

Gambar
sumber: canva Dua hari berturut-turut Harian Kompas menerbitkan laporan investigatif tentang carut marutnya proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah negeri/publik. Mulai dari maraknya calo, murid titipan, hingga pemalsuan dokumen yang dilakukan orang tua. Umumnya, pengakalan proses ini terjadi di sekolah favorit di kota besar. Jika di era saya dulu syarat masuk ke sekolah negeri favorit dan bergengsi adalah nilai, kini sistem zonasi. Sistem zonasi mengharuskan peserta didik tinggal dalam radius 10 KM dari sekolah. Bukti ini ditandai dengan data Kartu Keluarga. Sehingga sebagian orang tua melakukan segala cara untuk mengakali sistem ini, bahkan ada yang menitipkan anaknya pada keluarga lain, atau merogoh kantong hingga Rp20 juta untuk mendapatkan kursi di sekolah negeri. Sistem zonasi dibuat agar tidak ada lagi sekolah favorit/bergengsi dan meratakan status sosial-ekonomi, selain itu peserta didik yang tinggal di zona sekolah mendapatkan akses sekolah dengan lebih adil. Namu...

Curhat Kawan: "Kenapa Perempuan Bekerja?"

Gambar
Kenapa perempuan bekerja? Begitu pertanyaan seorang kawan kepada saya. Saya bilang jawabannya kompleks. Tergantung kondisinya.  Ada perempuan bekerja karena harus bekerja. Ada sebagian lain yang bekerja karena ingin bekerja. Keharusan dan keinginan tentu dua hal yang berbeda.  Ada yang tak ingin bekerja, tapi dia harus bekerja. Ada juga yang tak harus bekerja, tapi dia ingin bekerja.  “Lalu, kenapa kamu bekerja?” desaknya.  Saya jawab, saya berada di kondisi harus dan ingin. Kenapa? Saya harus bekerja, karena saya butuh tempat piknik dari peran dasar perempuan. Saya ingin karena ada kebutuhan tempat piknik. Saya sering sakit kalau tidak beraktivitas dan hanya memikirkan satu hal yang sama secara konstan setiap hari.  Bagi sebagian perempuan ruang domestik tak cukup bagi mereka. Bahasa era milenium menyebut aktivitas itu sebagai aktualisasi diri.  Sebagian perempuan yang punya keharusan lainnya memiliki kasus berbeda. Terutama mereka para pejuang mandiri. Pe...

Menghadapi Pudarnya Pertemanan

Gambar
Saya takjub betul meski baru menonton beberapa episode Hospital Playlist season satu. Betapa persahabatan di antara para dokter itu begitu sakral dan awet. Bahkan Indomie yang pakai pengawet pun punya tanggal kadaluarsa.  Saya jadi memperhatikan tren pertemanan saya beberapa tahun terakhir. Tidak ada perkelahian, tidak ada drama-drama, tidak ada pertemuan atau reuni rutin, tidak bertukar kabar kecuali ada sanak keluarga meninggal atau sakit parah. Banyak hal dalam pertemanan mulai memudar.  Saya pikir apa yang membuat para sahabat dokter di Hospital Playlist itu masih terus akrab karena mereka masih punya satu common interest : menyelamatkan nyawa manusia lewat operasi-operasi, yang keliatannya tak perlu tagihan. Sungguh mulia.  Kedua, mereka juga mulai menghangatkan kembali pertemanan yang hampir pudar dengan bekerja dalam satu tim dalam rumah sakit yang sama. Ketiga, mereka memaksakan diri untuk meluangkan waktu bermain band bersama. Itu juga awalnya terpaksa. Macam kel...